Selasa, 30 Desember 2008

Intremezzo

kenapa postingan sebelumnya gw ulang 2 kali? krn gw mau!

Catatan Awal Sekolah

ANAK BAND

Suatu hari di kehidupanku yang… ah, susah dijelasin dengan kata-kata, kembali ke sekolah tercintaku SMA Negeri 1 pontianak. Bersama teman sebangkuku, Satria dan seorang temanku yang duduk di belakang Satria, Fadhil mengobrol hal tak karuan tentang sepak bola dan beralih ke musik dengan urutan yang perlahan-lahan.
Obrolan dimulai ketika dengan bangganya Satria membanggakan pemain sepak bola andalannya, Zlatan Ibrahimovich mencetak gol dalam pertandingan yang dijalani Inter Milan tadi malam. Lalu aku bilang hal tadi biasa-biasa saja karena memang sudah biasa penyerang seperti Ibrahimovich mencetak gol. Fadhil juga bilang hal itu biase-biase jak. Satria pun terpojok dan tak berkata apa-apa.
Dalam keheningan selama lima detik tadi, aku ingin mencairkan suasana dengan mengubah topik pembicaraan menjadi tentang musik. Aku bertanya kepada Satria tentang lagu lagu Avenged Sevenfold. Diapun kembali bersemangat dan merasa dirinya satu-satunya penggemar A7X yang mengetahui apapun tentang A7X. Aku tak peduli dia ngomong apa, aku melihat keluar, melihat kakak-kakak kelas yang cantik sedang berjalan melewati kelas kami. Satria terus mengoceh, Fadhil sok memperhatikan tanpa tahu apa yang diocehkan Satria.
Karena tidak tahan di kelas yang rebut, aku pergi ke WC untuk menenangkan diri. Tapi, di perjalanan aku bertemu sesosok mahluk aneh seperti tuyul, yaitu M.Kahfi yang biasa kupanggil Opi. Dia berlari kearahku dengan keadaan tangan di kepala seperti sedang melakukan hormat grak. Lalu, dia memukulku dengan sekuat tenaga tanpa ampun. Gile! Sakit! Apelah alasan anak itu?
“Ade pesawat!”, katanya dengan begitu bangga.
Aduh, di kelas ribut. Di luar kelas sakit. Akupun kembali ke kelas dengan perasaan super campur aduk. Aneh, bingung, merasa sial, takut, horror, bising, gile, bodoh, dan semua hal-hal yang bersifat parasit terdapat banyak dalam jaringan serebrum dan serebelum-ku.
Sekarang, di kelas XC yang tanpa guru, anak-anak pintar sedang membicarakan hal-hal yang bersifat ilmiah dan memeras otak, serta melakukan eksperimen-eksperimen aneh yang tidak dimengerti olehku, Satria, dan Fadhil. Satria sedang mendengar Mp3-nya sambil menutupi kepalanya dengan sweaternya. Fadhil sedang menggoda Tora yang duduk dibelakangnya. Mitha, Uniq, Sarah, dan Cindy sedang bermain-main dengan laptopnya. Paling-paling mencari sesuatu dengan internet yang bisa digunakan disekolah karena SMANSA-ku tercinta ini punya Hotspot. Aku bisa tebak, kalau Mitha pasti sedang buka hal-hal yang berhubungan dengan pesepakbola kesukaannya, Miroslav Klose. Menurutku, Sarah sedang mengobrol dengan orang asing melalui Facebook-nya. Sementara itu, aku tidak tahu dengan apa yang dibuka Uniq dan Cindy.
Melihat ke kelompok bangku sebelah kanan, ada Yayan, Raosan, Wishnu, Lutfi, dan Eranyo sedang bermain memecahkan kode-kode angka aneh yang ketentuan permainannya takkan bisa dijangkau oleh kemampuan otakku yang keren ini. AGGHHHHH!!!!! Sementara aku tak peduli apa yang dilakukan kawan-kawanku yang lain. Aku kembali ke bangkuku.
Satria sedang mendengarkan Mp3 waktu itu, jadi ia tak menyadari keberadaan sosokku yang kembali duduk dengan kemurungan. Sebenarnya aku mau menggoda Tora bersama Fadhil seperti biasanya. Tapi, hari ini aku gak mood. Aku diam seribu bahasa sampai seseorang dari kelas lain yang dengan santainya masuk ke kelasku. Auji dan Rizki, itulah nama dua mahluk dari kelas XD yang datang ke kelasku.
“Wan, bale’ sekolah maen band yok!”, ajak mereka.









Rifwan Alfikri, 19 Desember 2008

Senin, 22 Desember 2008

Liat aja di bawah!

ANAK BAND

Suatu hari di kehidupanku yang… ah, susah dijelasin dengan kata-kata, kembali ke sekolah tercintaku SMA Negeri 1 pontianak. Bersama teman sebangkuku, Satria dan seorang temanku yang duduk di belakang Satria, Fadhil mengobrol hal tak karuan tentang sepak bola dan beralih ke musik dengan urutan yang perlahan-lahan.
Obrolan dimulai ketika dengan bangganya Satria membanggakan pemain sepak bola andalannya, Zlatan Ibrahimovich mencetak gol dalam pertandingan yang dijalani Inter Milan tadi malam. Lalu aku bilang hal tadi biasa-biasa saja karena memang sudah biasa penyerang seperti Ibrahimovich mencetak gol. Fadhil juga bilang hal itu biase-biase jak. Satria pun terpojok dan tak berkata apa-apa.
Dalam keheningan selama lima detik tadi, aku ingin mencairkan suasana dengan mengubah topik pembicaraan menjadi tentang musik. Aku bertanya kepada Satria tentang lagu lagu Avenged Sevenfold. Diapun kembali bersemangat dan merasa dirinya satu-satunya penggemar A7X yang mengetahui apapun tentang A7X. Aku tak peduli dia ngomong apa, aku melihat keluar, melihat kakak-kakak kelas yang cantik sedang berjalan melewati kelas kami. Satria terus mengoceh, Fadhil sok memperhatikan tanpa tahu apa yang diocehkan Satria.
Karena tidak tahan di kelas yang rebut, aku pergi ke WC untuk menenangkan diri. Tapi, di perjalanan aku bertemu sesosok mahluk aneh seperti tuyul, yaitu M.Kahfi yang biasa kupanggil Opi. Dia berlari kearahku dengan keadaan tangan di kepala seperti sedang melakukan hormat grak. Lalu, dia memukulku dengan sekuat tenaga tanpa ampun. Gile! Sakit! Apelah alasan anak itu?
“Ade pesawat!”, katanya dengan begitu bangga.
Aduh, di kelas ribut. Di luar kelas sakit. Akupun kembali ke kelas dengan perasaan super campur aduk. Aneh, bingung, merasa sial, takut, horror, bising, gile, bodoh, dan semua hal-hal yang bersifat parasit terdapat banyak dalam jaringan serebrum dan serebelum-ku.
Sekarang, di kelas XC yang tanpa guru, anak-anak pintar sedang membicarakan hal-hal yang bersifat ilmiah dan memeras otak, serta melakukan eksperimen-eksperimen aneh yang tidak dimengerti olehku, Satria, dan Fadhil. Satria sedang mendengar Mp3-nya sambil menutupi kepalanya dengan sweaternya. Fadhil sedang menggoda Tora yang duduk dibelakangnya. Mitha, Uniq, Sarah, dan Cindy sedang bermain-main dengan laptopnya. Paling-paling mencari sesuatu dengan internet yang bisa digunakan disekolah karena SMANSA-ku tercinta ini punya Hotspot. Aku bisa tebak, kalau Mitha pasti sedang buka hal-hal yang berhubungan dengan pesepakbola kesukaannya, Miroslav Klose. Menurutku, Sarah sedang mengobrol dengan orang asing melalui Facebook-nya. Sementara itu, aku tidak tahu dengan apa yang dibuka Uniq dan Cindy.
Melihat ke kelompok bangku sebelah kanan, ada Yayan, Raosan, Wishnu, Lutfi, dan Eranyo sedang bermain memecahkan kode-kode angka aneh yang ketentuan permainannya takkan bisa dijangkau oleh kemampuan otakku yang keren ini. AGGHHHHH!!!!! Sementara aku tak peduli apa yang dilakukan kawan-kawanku yang lain. Aku kembali ke bangkuku.
Satria sedang mendengarkan Mp3 waktu itu, jadi ia tak menyadari keberadaan sosokku yang kembali duduk dengan kemurungan. Sebenarnya aku mau menggoda Tora bersama Fadhil seperti biasanya. Tapi, hari ini aku gak mood. Aku diam seribu bahasa sampai seseorang dari kelas lain yang dengan santainya masuk ke kelasku. Auji dan Rizki, itulah nama dua mahluk dari kelas XD yang datang ke kelasku.
“Wan, bale’ sekolah maen band yok!”, ajak mereka.









Rifwan Alfikri, 19 Desember 2008

Jumat, 12 Desember 2008


hahahahahaha...
hahahahahaha...
hahahahahaha...
hahahahahaha...
apa lagi ya?

Rabu, 10 Desember 2008

Bacalah wacana berikut dengan seksama!

Kamen Rider Adventure in Pontianak

Character List :
• Rifwan Alfikri Saleh as Ryuki
• Satria Nugroho Setiadi as Knight
• Muhammad Fadhil as Phoenix

Cerita ini bermula ketika aku ingin pergi ke sekolah tercintaku, SMA negeri 1 pontianak. Ketika kira-kira 5 meter lagi ke tempat parkiran sekolah, aku mendengar suara aneh, terdengar seperti suara feedback dari alat-alat musik elektrik. Suara itu sangat-sangat menyengat gendang telingaku. “ngiiing…ngiing…ngiiing”, aahh muak aku mendengarnya.
Setelah motor berhasil kuparkirkan dengan susah payah karena harus mendengar suara-suara yang memuakkan itu, aku melihat Tora dan Tina masuk ke lapangan parkiran SMA 1, aku menyapanya. Melihat si kembar cantik itu, suara yang dari tadi membuatku hampir kehilangan akal sehat mulai mereda.
Lalu kutanyai mereka tentang suara-suara aneh tersebut, apakah mereka mendengarnya atau tidak. Ternyata mereka bilang tidak. Aku mulai berfikir, apakah mereka yang salah atau otakku yang sedang berada pada puncak kedepresian mahluk hidup. Ditengah kepusingan itu, tiba-tiba terlintas di otakku tentang Bakteriofage. Mungkinkah sel-sel bakteri kewarasan diotakku telah terusak oleh mARN yang disalurkan bakteriofage itu pada siklus litik?. Mungkinkah terjadi lisis di otakku?
Waktu aku berbalik kebalakang sebentar untuk menaruh helmku di jok motor. Aku mendengarkan suara teriakan Tora dan Tina. Langsung aku melihat kearah mereka. Mana mereka? Kemanakah 2 bidadari kembar yang manis itu? Yang bisa kulihat hanyalah kaca spion motor Supra X mereka bergoyang-goyang, seakan baru tersenggol sebuah truk. Eh? Suara itu menghilang…
Mungkin mereka sudah meninggalkanku ke kelas. Tapi, kayaknya nggak mungkin banget deh, karena sebelum aku berbalik arah dan sebelum mereka menghilang, aku mendengar suara teriakan mereka. Tak mungkin mereka bisa ke kelas secepat itu kecuali jika menggunakan warp. Akupun mulai merasakan sesuatu yang begitu janggal. Hantu? Setan? Atau alien dari ruang angkasa yang menculik mereka dengan kekuatan aneh dari pesawat UFO Yang mereka miliki? Kutampar pipiku sendiri untuk memastikan bahwa yang kualami barusan bukan sebuah mimpi aneh karena sebelum tidur aku lupa untuk mencuci kakiku yang begitu imut. Sakit! Ini bukan mimpi! Mungkinkah aku terjebak kedalam dunia anak-anak yang dipenuhi oleh monster-monster dan pahlawan-pahlawan yang menggunakan topeng untuk menutupi idenditasnya? Aku teringat film Kamen Rider Ryuki…
Dalam film tersebut, sang anak muda mendengar suara aneh, lalu melakukan kontrak dengan monster naga dengan sebuah kartu yang bertuliskan ‘blank’. Baru beberapa saat kupikirkan hal fiksi itu. Sebuah kartu aneh menghantam pelipisku dan jatuh dengan lemah gemulai dalam keadaan tertutup. Kutatap kartu itu. Firasatku buruk. Dan keringat dinginku bercucuran waktu kulihat apa yang ada pada desktop kartu itu. Dipojok atas kartu tersebut tertulis sebuah kata yang menyebabkan aku berfirasat buruk. Disitu tertulis dengan jelas kata “BLANK”. Lututku lemas…
Kupungut kartu itu. Tiba-tiba kartu itu bersinar dan berubah menjadi sebuah kotak aneh yang berisi beberapa kartu lain. Kutarik salah satu kartu dari kotak aneh tersebut dan menemukan kartu yang bertuliskan kata “CONTRACT”. Samar-samar aku mendengar suara aneh tadi untuk kedua kalinya. Aku tak peduli, aku berusaha untuk mencari dan menyelamatkan Tora dan Tina dari suatu hal yang tidak diinginkan.
Aku berlari ke kelas secepat yang aku bisa. Tidak kutemukan mereka. Kucoba cari ke tempat lain.
Tiba-tiba waktu terhenti. Aku bingung melihat semua fenomena aneh ini. Dalam ketidakwarasanku ini, sesuatu hal membuatku merasa semakin tidak waras. Seekor naga berwarna merah, lebih tepatnya sebuah robot naga menyemburkan api yang sangat besar kearahku. Aku menghindar dengan gerakan refleks sebisaku. Tapi sepertinya naga itu tak menyerah, ia kembali menyemburku dengan bara api berkali-kali. Aku hanya bisa lari dan lari tanta tahu arah. Begitu naasnya nasibku, begitu pikirku.
Dalam keputusasaanku yang semakin menggila, tiba-tiba seseorang yang tidak kuketahui dimana batang hidungnya berteriak untuk memberi isyarat kepadaku atas sesuatu hal. Tapi, sepertinya suara ini telah lama kukenal dan sangat tak asing bagiku.
“Hei, cari sebuah cermin yang besar!”, begitu kata suara orang misterius itu.
Bergegas aku mencari cermin besar di sekolah ini, tapi hasilnya nihil. Aku sudah putus asa melihat seekor robot naga merah besar dibelakangku bersiap menyemburkan api untuk memanggang tubuhku.
Ditengah keputusasaanku ada seberkas cahaya menyinariku. Kucari darimana sumber cahaya tersebut. Sebuah mobil Suzuki APV memantulkan cahaya matahari pagi yang silau kearahku. Mungkin mobil itu adalah mobil orang tua murid yang sedang mengantar anaknya ke sekolah. Tanpa banyak berfikir aku mendekati mobil itu dan mengetahui bahwa body metallic daripada mobil itu juga bisa berfungsi sebagai cermin.
Terdengar lagi suara seorang misterius yang tadi memberiku instruksi untuk mencari cermin besar, “Hei, perlihatkan deck kartumu kearah cermin itu!”. Deck? Deck apa? Ooh, mungkin yang dimaksudnya adalah kotak aneh yang kudapatkan tadi.
Kuperlihatkan deck itu ke body mobil APV tersebut. Tiba-tiba terbentuk sebuah ikat pinggang keren di pinggangku. Kupikir itu hanya halusinasi, tapi ternyata bukan.
“masukkan deck-mu ke dalam kepala ikat pinggang itu!”, suara orang misterius itu terdengar lagi.
Kumasukkan deck itu dan apa yang terjadi? Seonggok baja menyelimutiku membentuk sebuah kostum yang begitu keren. Ini sih KAMEN RIDER pikirku.
Sulit dipercaya aku telah menjadi kamen rider. Tapi, warnaku masih putih menandakan belum terjadi kontrak antara aku dan monster.
Ketika melihat naga yang menyemburkan api itu, aku menjadi yakin bahwa naga itu adalah monster yang akan menjadi monsterku. Lantaran melihat bentuk kostum kamen riderku yang mirip dengan bentuk naga.
Seperti di film, kukeluarkan kartu CONTRACT dari deck-ku dan kutunjukkan kepada naga itu. Naga itu tiba-tiba menjadi seperti patuh padaku seakan-akan aku adalah majikannya. Lalu, dengan cepat ia masuk kedalam kartu BLANK-ku.
Tiba-tiba kartu BLANK tadi terisi dengan gambar naga yang mau menyemburku barusan. Lalu kartu CONTRACT-ku berubah menjadi cahaya yang menyelimutiku dan merubah warnaku menjadi merah. Keren sekali aku waktu itu!
Kulihat di kaca depan hall SMA 1, seekor monster berbentuk laba-laba sedang membawa Tora dan Tina dengan kedua dari delapan kakinya. Tampaknya Tora Dan Tina sangat merasa kesakitan. Tak terima kawanku diperlakukan begitu, emosiku langsung memuncak. Ingin kubunuh monster itu dan kucincang hingga menjadi serpihan kerikil di tempat pembuangan sampah Sui.Jawi.
Karena sudah menonton film-nya aku yakin bahwa dengan kekuatanku yang sekarang, aku bisa menembus kaca dan menyelamatkan keua bidadari kembar itu.
Ternyata benar, aku bisa menembus kaca dan pergi ke dunia cermin yaitu dunia paralel dimana segala sesuatunya seberti berada dibalik cermin, yaitu serba terbalik.
Kucegat monster itu dan mengancam, “Lepaskan mereka, kalau tidak ingin menjadi sampah busuk di pedalaman Planet Jupiter.”
“Hahahahahahaha…. Kedua perempuan ini akan kumakan, lalu energiku akan bertambah kuat!!!”, monster itu menjawab ancamanku.
“Sialan! Kalau begitu kau akan kubunuh sekarang! Sword Hole!”, pekikku sambil mencabut satu kartu dari deck-ku dan memasukkannya kedalam card reader yang ada di tanganku. Tiba-tiba sebuah pedang yang berpangkal kepala naga jatuh dari langit dan dengan mudahnya kutangkap pedang itu. Pedang itu sepertinya mengeluarkan aura kekuatan yang sangat hebat. Aku bersemangat.
Aku berlari ingin menebas kepala laba-laba sialan itu. Lalu, si laba-laba melekatkan Tora dan Tina didinding dengan jaringnya yang begitu lengket. Itu hanya akan membuat aku bersemangat untuk memenggal kepala laba-laba itu.
Pedangku dengan telak menebas perutnya. Ia seakan tak percaya kalau kamen rider amatir seperti aku ini bisa menggunakan pedang dengan begitu mahir.
Beberapa menit kemudian malah aku yang terdesak karena staminaku belum terlatih. Sementara dia dengan begitu senang menyerangku. Aku terjatuh. Oh, tidak! Dia akan menikam perutku dangan kaki-kakinya yang begitu tajam seperti parang! Tiba-tiba…
“Spear Hole!”, sebuah tombak berwarna hitam menusuk perut monster laba-laba itu, menyelamatkanku dari maut yang hampir menjemput. Seseorang dengan baju baja dan jubah berwarna hitam kelam yang kuyakini sebagai orang misterius yang memberi isyarat kepadaku tentang tatacara menggunakan deck. Karena suaranya sama dengan pemilik suara misterius itu.
“Siapa kau sebenarnya?”, tanyaku penasaran.
Ia mulai mendekatiku dan berlagak sok cool dengan mengucapkan nama tanpa menoleh sama sekali kearahku,”Namaku adalah… Knight!”
Aku tahu siapa dia, sang pemilik suara misterius yang sudah kukenal suaranya itu. Ia tak lain adalah Satria Nugroho Setiadi, teman sebangkuku di kelas. Rupanya ia telah menjadi kamen rider duluan sebelum aku. Keren juga kostum tuh anak!
“Woi, Ya’. Kau ni… sok cool, macam aku tadak tau jak kalau kau tu Satria!”, kataku sedikit mengejek.
Ia terperanjat seolah tidak percaya, “Kok kau tau sih?”
“Woi, Bodo! Biar kau dah berubah jadi keren kayak apepun, suare kau tu mane bise diganti!”, aku terpingkal.
“Mane duli!”, katanya emosi seolah tak percaya kalau idenditasnya bisa ketahuan secepat ini.
Pada saat kami sedang bercanda dan tertawa, monster itu kembali bangun dan menggunakan jurus membelah diri menjadi ratusan! Tidak! Bahkan ribuan!
Tapi, kami berdua tidak takut dan berusaha melawan dengan seluruh tenaga yang kami miliki. Aku menggunakan Sword Hole-ku, sedangkan knight menggunakan Spear Hole-nya. Kami menebas, dan menebas tapi jumlah monster laba-laba ini tetap tak terbatas. Hampir habis tenaga kami. Aku melihat Tora dan Tina yang sedang dalam keadaan pingsan.
“Tora, maafin aku. Kayaknya aku akan berakhir disini dan gak bisa nyelamatin kamu dan kakak kamu. Aku mungkin akan mati disini, aku gak bisa ngelindungin kamu. Maafin aku…”, kataku dalam hati menyesal. Knight juga kelihatannya sudah pasrah dengan apa yang akan mungkin terjadi pada kami sebentar lagi.
“Ugh! Kenapa cuma segini kekuatanku? Aku ingin menyelamatkan nyawa Tora, Tina, dan Ryuki! Tapi…”, kata Knight menggumpat dirinya sendiri.
Dalam keadaan darurat ini, tiba-tiba seekor Burung Phoenix berwarna emas datang dan sekali mengibaskan sayapnya, ia memusnahkan hampir setengah dari jumlah pasukan monster laba-laba tadi musnah.
“Hei, para kesatria tangguh! Aku adalah Phoenix. Jika kalian ingin menyelamatkan kedua teman kalian itu, kuberikan kartu-kartu ini”, seorang kamen rider berkostum emas datang memberikan kami kartu-kartu bergambar sayap. Aku mendapatkan sayap api, sedangkan Knight mendapatkan sayap es.
Kamen Rider itu juga bodoh, ia juga lupa menutupi suaranya. Aku dan Knight kenal suara itu. Kamen Rider Phoenix itu tak lain adalah Muhammad Fadhil, salah seorang kawan kami di XC.
“Sudah, ya! Aku pergi dulu. Ada urusan!”, kata Phoenix sambil membalikkan badan dan pergi meninggalkan kami yang bengong melihat tingkah lakunya. Ia pergi sambil mengendarai monster Burung Phoenix-nya.
Kartu yang diberikan oleh Phoenix tadi adalah kartu SURVIVOR yang akan merubah bentuk kami berdua ke bentuk ultimate dari kemampuan kami.
Kami berdua memasukkan kartu-kartu tadi ke dalam card reader kami. Tiba-tiba, tubuh kami merasakan tenaga super yang meresap masuk kedalam tubuh kami ini.
Bentuk kostum kami berubah! Kami terlihat semakin gagah dengan kostum baru kami. Melihat kekuatan kami yang begitu besar, monster laba-laba berusaha untuk mengambil Tora dan Tina untuk mengancam kami agar tidak membunuhnya.
“Ryuki…!”
“knight…!”
Beberapa detik sebelum laba-laba sial itu mengambil Tora dan Tina, kami menarik kartu FINAL HOLE. Kartu itu membuat naga milikku dan kelelawar milik Knight berubah transformasi menjadi motor yang bisa melaju super cepat! Tapi kupikir motorku lebih keren. Lalu, kami berdua naik keatas motor-motor kami dan meng-Gas motor itu dengan tenaga dan torsi yang penuh! Dalam sekejap, jurus andalan kami ini menghancurkan monster laba-laba itu tanpa tersisa. Bahkan, debunya pun tidak ada!
Akhirnya aku menggendong Tora dan Tina keluar dari dunia cermin. Setelah keluar aku dan Satria berusaha menyadarkan mereka yang sedang pingsan. Setelah sadar, mereka terlihat begitu ketakutan dan shock! Mereka masih trauma dengan apa yang baru saja mereka rasakan. Lalu, kami membawa mereka ke UKS SMA 1.
Setelah pulang sekolah, kami menjenguk mereka di UKS bersama teman-teman lain dari XC. Tora dan Tina sangat bisa menjaga rahasia seperti yang dipesankan Satria kepada mereka.
“Rifwan, makasih ya… aku gak tau gimana nasib aku kalau gak ada kamu.”, Tora mengucapkan terima kasih denganku. Sementara Tina masih tidur dengan tenang.
“Jangan dipikirin ah! Namanya juga teman!”, kataku sambil senyum. Lalu kami berdua saling tersenyum malu-malu dengan pipi merah merona. Aku senang! Tapi kesenanganku itu terusak gara-gara tiba-tiba Fadhil datang dan menyeletuk!
“Hati-hati, Tora! Jangan dekat-dekat Rifwan! Die tuh cabul!”, kata Fadhil tanpa merasa berdosa sedikitpun.
SHIT!





By : Rifwan Alfikri Saleh
SMA Negeri 1 Pontianak
Pontianak, 9 Desember 2008

Jumat, 05 Desember 2008

hari ini ulangan b.inggris n geografi finish! rutinitas bru aq si skul, gangguin Tora. berjalan sprti biasa. dia menghindar, lalu senyum! cantek be klo senyum! tp hr ini die teriak ke aq "pelit"!

hahahahahaha

Hore! blog aku akhirnye kebuka' juga!